27 Mei 2011 - 19:30

Bertepatan dengan hari ke 100 perjuangan rakyat Bahrain dalam menghadapi kezaliman rezim Ali Khalifah perkumpulan para pengamat politik dan wartawan ABNA menyelenggarakan seminar "100 Hari Perjuangan Rakyat Tertindas" di auditorium Daftar Tabligat Islami Qom Iran. Pada kesempatan tersebut, Hujjatul Islam wa Muslimin Thahiri Bahraini memaparkan pandangannya.

Menurut Kantor Berita ABNA, bertepatan dengan hari ke 100 perjuangan rakyat Bahrain dalam menghadapi kezaliman rezim Ali Khalifah perkumpulan para pengamat politik dan wartawan ABNA menyelenggarakan seminar "100 Hari Perjuangan Rakyat Tertindas" di auditorium Daftar Tabligat Islami Qom Iran.  

Dalam seminar tersebut, Hujjatul Islam wa Muslimin Thahiri Bahraini salah seorang pengajar Hauzah Islamiyah Qom menyampaikan paparan dan pandangan politiknya mengenai situasi politik yang terjadi di Bahrain. Dalam paparan ceramahnya yang disampaikan dalam bahasa arab, Hujjatul Islam Thahiri Bahrain memulainya dengan mengucapkan banyak terimakasih kepada Majma Jahani Ahlul Bait dan para pekerja pers yang tergabung di Kantor Berita ABNA yang telah menjadi penyelenggara seminar tersebut. Beliau selanjutnya berkata, "Kebangkitan yang tengah terjadi saat ini di Bahrain, bukanlah kebangkitan yang terjadi secara kebetulan dan begitu saja, mengikuti hiruk pikuk revolusi yang telah terjadi di beberapa Negara sebelumnya. Melainkan kebangkitan yang telah didesain dan direncanakan jauh-jauh sebelumnya yang kemudian mendapat kesempatan yang dimulai oleh kebangkitan di beberapa Negara di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah."  

Lebih lanjut beliau berkata, "Bisa dikatakan kebangkitan yang saat ini terjadi di Bahrain terinspirasi dan terpicu oleh kebangkitan yang sebelumnya telah terjadi di Tunisia dan Mesir. Namun pada dasarnya, memuncaknya kemarahan rakyat Bahrain karena kezaliman dan penindasan yang mereka hadapi, yang kemudian meletus menjadi sebuah kebangkitan dengan memanfaatkan momen yang ada."

Hujjatul Islam Thahiri kemudian menyebutkan keberadaan Ayatullah Syaikh Isa Qasim sebagai seseorang yang diangkat sebagai pemimpin revolusi Bahrain menjadikan revolusi Bahrain mempunyai nilai lebih dibandingkan revolusi di Tunisia dan Mesir. Keberadaan pemimpin yang diakui bersama tersebut oleh para penggerak revolusi menjadikan perlawanan rakyat Bahrain sampai saat ini masih terus berlanjut dan semakin hari mereka semakin menunjukkan persatuan yang kokoh.

Beliau berkata, "Pada revolusi yang terjadi di Tunisia dan Mesir, organ-organ Islam semisal Al-Azhar dan Ikhwanul Muslimin tidak menunjukkan perannya yang signifikan atau bisa dikatakan tidak ada sama sekali, dan kalaupun ada peran mereka terlalu terlambat, diakhir-akhir keberhasilan revolusi. Sementara kebangkitan yang terjadi di Bahrain adalah kebangkitan yang dipicu oleh semangat ber Islam yang tinggi, yang terinspirasi oleh perjuangan dan keberhasilan revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini. Yakni sebuah revolusi yang dibangun dari madrasah Ahlul Bait as."

Lebih lanjut, pelajar hauzah Ilmiyah Qom ini menyebutkan akar persoalan kebangkitan rakyat Bahrain yang dicetuskan tanggal 14 Februari 2011 lalu. Beliau berkata, "Kebangkitan rakyat di Bahrain telah bermula sejak tahun 1766, yakni sejak bermula dari kedatangan Ali Khalifah yang berasal dari Kuwait, yang kemudian dengan kekayaannya banyak menguasai tanah di Bahrain. Singkatnya Ali Khalifah sama sekali tidak mempunyai hak pengklaiman atas Bahrain. Hal ini diungkap oleh sejarahwan besar Yusuf Bahraini yang menuliskan dalam kitabnya, Hadaiq An Nadhirah. Sejak itulah rakyat pribumi Bahrain mulai melancarkan perlawanan dan ketidaksetujuan atas kedatangan Ali Khalifah. Namun perlawanan demi perlawanan tersebut mampu dimentahkan dengan adanya tekanan dari Ali Khalifah. Bahkan Yusuf Bahrain harus tersingkir dan kemudian menetap di Qutaif. Lalu kemudian, muncul tokoh revolusi lagi yang bernama Husain Bahraini, namun sayang perjuangannya pun belum menuai hasil. Namun setidaknya ini menunjukkan, sebelum kebangkitan 14 Februari lalu, rakyat Bahrain telah memulainya dari dulu."

"Selama perjuangan untuk merebut kembali hak-hak mereka, rakyat Bahrain telah mengorbankan segalanya, nyawa dan harta mereka. Apa yang mereka lakukan adalah sebagaimana yang dilakukan Imam Husain as, yakni pantang untuk terhina." Tegas beliau.

Lebih lanjut Hujjatul Islam Thahiri berkata, "Peringatan-peringatan kesyahidan, semisal syahadah Imam Husain as dan Sayyidah Fatimah as di Bahrain, menjadi penyemangat tersendiri bagi rakyat Bahrain untuk bangkit melawan. Keberanian Imam Husain as yang meskipun dengan kekuatan yang sangat terbatas menjadi inspirasi bagi mereka."

Dalam bagian lain pada ceramahnya menyangkut tujuan kebangkitan rakyat Bahrain, ia memaparkan, "Rezim Ali Khalifah sendiri juga bertanya, apa yang menyebabkan rakyat ini sedemikian bersatu untuk melawan? Jawabannya cuman satu, pemersatunya adalah berpegangan kepada Ahlul Bait as. Syiar rakyat Bahrain adalah, kami Sunni dan Syiah bersaudara dan bersatu yang tidak akan menjual Negara ini. Namun sayang, oleh rezim Ali Khalifah yang membayar tentara sewaan memporak-porandakan syiar tersebut, dengan menulis pada dinding-dinding hauzah dan husainiyah syiar-syiar perpecahan mazhab, karenanya kebanyakan media menuliskan kebangkitan yang terjadi di Bahrain adalah konflik sektarian, dan akhirnya tidak menimbulkan simpatik umat Islam se dunia."

Atas adanya fitnah perpecahan antar Sunni-Syiah oleh rezim Ali Khalifah, Hujjatul Islam Thahiri mengutuknya dengan keras. Beliau berkata, "Diantara taktik perpecahan tersebut, setiap demonstran yang tertangkap ketika ditanya oleh tentara, apakah ia Sunni atau Syiah? Dan setiap dijawab Syiah, maka demonstran tersebut kemudian disiksa dan dijebloskan ke penjara tanpa proses hukum. Mereka juga menghancurkan masjid-masjid umat Syiah dan membakar Al-Qur'an yang berada di dalamnya. Bahkan salah seorang ulama Wahabi mengatakan, seandainya saya bisa ke Bahrain, aku akan membunuh umat Syiah disana dengan terjangan peluru."

"Siksaan yang dialami rakyat Bahrain bukan sekedar fisik saja, namun juga secara mental dan psikologis. Rakyat Bahrain saat ini menjadi terkucil dan terasing dalam pergaulan dunia internasional. Tidak ada kontak sama sekali dengan dunia luar, sehingga tidak bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya. Hatta Al Jazirah dan Al Arabiyah yang dituding selama ini sebagai media pers yang netral juga menyebutkan konflik yang terjadi di Bahrain adalah konflik yang dipicu oleh perpecahan mazhab." Lanjutnya.  

Atas terbunuhnya empat tokoh Syiah dalam penjara Ali Khalifah yang dituding sebagai orang dibalik kericuhan di Bahrain, Hujjatul Islam Thahiri mengatakan, "Terbunuhnya empat tokoh Syiah tersebut menunjukkan ketidak inginan Ali Khalifah untuk menghentikan konflik di Bahrain secara damai. Sebab dengan membunuh empat orang tersebut, Ali Khalifah seakan-akan ingin berkata, kalau membunuh empat orang ini saja kami bisa, apalagi membunuh yang lainnya."

Di ujung pembicaraannya, Hujjatul Islam Thahiri kembali mengucapkan terimakasih atas penyelenggara seminar. Dan mengucapkan terimakasihnya yang mendalam terhadap rakyat Iran yang telah menunjukkan simpatiknya dan dukungannya yang luar biasa terhadap perjuangan rakyat Bahrain selama ini.